Bayu berdiri di sudut jendela kamarnya. Matanya terus tertuju ke arah kamar di seberang rumahnya. "Nadira." Lirih batinnya menyebut namanya. Mendekati hari di mana ia dan Ela akan mengikat janji sebagai pasangan suami istri, semakin membuat Bayu merasa tidak tenang. Fikirannya tertuju akan satu gadis. Gadis yang sudah ia lukai. Bayu merunduk di lantai kamarnya. Setetes air mata perlahan mengalir di wajahnya. Satu hal yang perlahan ia yakini, ia mencintai Dira. Dalam kebingungan ingatan akan kejadian beberapa waktu yang lalu muncul kembali di hadapannya. Bayu masih menatap kepergian Dira. Sedih tentu saja karena lagi-lagi ia melukai sahabatnya. Namun bagi Bayu ini adalah yang terbaik. Ia tidak mungkin terus membiarkan Dira larut dalam perasaannya. Usai lamaran Bayu secara pribadi, dua hari kemudian keluarga besar Abimanyu datang kekediaman Wijaya untuk meminang secara resmi putri tunggal mereka yaitu Elena. Wijaya dan Alena sangat bahagia, akhirnya putri semata wayang mer...
Dira tiba di Makassar sekitar pukul satu lewat lima belas menit dini hari. Setelah menempuh perjalanan selama dua jam akhirnya Ia tiba juga di kota yang terkenal julukannya dengan nama kota daeng. Dari Bandara Sultan Hasanuddin makassar, ia langsung menuju hotel. Malam ini ia putuskan untuk menginap di sana. Karena sudah tengah malam, jalanan pun tampak lengang. Taxi yang ia gunakan dengan lancar melaju. Hingga tidak sampai tiga puluh menit ia tiba di hotel. Dira memintanya untuk di antar ke hotel yang dekat dari rumah sakit tempat di mana ia akan bekerja. Begitu tiba di hotel, Dira langsung chek in dan dengan bantuan pelayan hotel ia masuk ke salah satu kamar yang akan ia gunakan. Selembar uang lima puluh ribuan ia berikan kepada pelayan tersebut, sebagai tip atas bantuannya. Karena rasa lelah yang sudah melandanya Dira langsung menyatukan dirinya dengan tempat tidur. Tidak butuh lama, akhirnya ia terlelap. Cuaca pagi kota Makassar terlihat berkabut. Jalanan tampak basah sisa huja...
Orang bilang saat hatimu sedih maka buatlah dirimu sesibuk mungkin. Dengan begitu perlahan kau akan melupakan hal yang membuat bersedih. Seperti itulah Dira melakukannya. Sudah beberapa hari ini Dira disibukkan dengan kegiatan residen di rumah sakit. Ia bersyukur, karena hal ini membuatnya lupa akan masalah yang sedang ia hadapi. Sekalipun melelahkan Dira begitu bahagia melihat pasien yang ia rawat perlahan membaik. Terlebih lagi pasiennya adalah anak-anak yang lucu. "Pagi kakak dokter cantik." Sapa seorang pasien padanya begitu melihat Dira yang berjalan ke arahnya. "Pagi juga adik ganteng!" ucapnya lembut pada pasien tersebut yang bernama Rama. Dira menunduk. Mensejajarkan posisinya dengan Rama. Tersenyum ramah, pada sang pasien. "Coba kakak periksa keadaan Rama sekarang?" Dira mulai memeriksa kondisi Rama. Bocah berusia delapan tahun itu divonis mengalami gagal jantung. Usianya masih begitu muda untuk mengalami penyakit separah ini. Namun, bukankah ...
Komentar
Posting Komentar