Dira tiba di Makassar sekitar pukul satu lewat lima belas menit dini hari. Setelah menempuh perjalanan selama dua jam akhirnya Ia tiba juga di kota yang terkenal julukannya dengan nama kota daeng. Dari Bandara Sultan Hasanuddin makassar, ia langsung menuju hotel. Malam ini ia putuskan untuk menginap di sana. Karena sudah tengah malam, jalanan pun tampak lengang. Taxi yang ia gunakan dengan lancar melaju. Hingga tidak sampai tiga puluh menit ia tiba di hotel. Dira memintanya untuk di antar ke hotel yang dekat dari rumah sakit tempat di mana ia akan bekerja. Begitu tiba di hotel, Dira langsung chek in dan dengan bantuan pelayan hotel ia masuk ke salah satu kamar yang akan ia gunakan. Selembar uang lima puluh ribuan ia berikan kepada pelayan tersebut, sebagai tip atas bantuannya. Karena rasa lelah yang sudah melandanya Dira langsung menyatukan dirinya dengan tempat tidur. Tidak butuh lama, akhirnya ia terlelap. Cuaca pagi kota Makassar terlihat berkabut. Jalanan tampak basah sisa huja...
Orang bilang saat hatimu sedih maka buatlah dirimu sesibuk mungkin. Dengan begitu perlahan kau akan melupakan hal yang membuat bersedih. Seperti itulah Dira melakukannya. Sudah beberapa hari ini Dira disibukkan dengan kegiatan residen di rumah sakit. Ia bersyukur, karena hal ini membuatnya lupa akan masalah yang sedang ia hadapi. Sekalipun melelahkan Dira begitu bahagia melihat pasien yang ia rawat perlahan membaik. Terlebih lagi pasiennya adalah anak-anak yang lucu. "Pagi kakak dokter cantik." Sapa seorang pasien padanya begitu melihat Dira yang berjalan ke arahnya. "Pagi juga adik ganteng!" ucapnya lembut pada pasien tersebut yang bernama Rama. Dira menunduk. Mensejajarkan posisinya dengan Rama. Tersenyum ramah, pada sang pasien. "Coba kakak periksa keadaan Rama sekarang?" Dira mulai memeriksa kondisi Rama. Bocah berusia delapan tahun itu divonis mengalami gagal jantung. Usianya masih begitu muda untuk mengalami penyakit separah ini. Namun, bukankah ...
Gadis manis itu masih meneteskan air mata. Sejam yang lalu, tepatnya ketika Ela dan Bayu mengumumkan jika mereka resmi menjalin hubungan. Nadira seperti tertusuk bilah pisau. Jantungnya terasa sakit dan menyesakkan dadanya. Dira menepuk dadanya yang terasa sesak. "Mengapa kau memilih Ela... bukan aku?" Air mata terus mengalir membasahi wajahnya. Sudah dua hari ini, ia tidak bertemu dengan Bayu dan Ela. Lagipula ia juga tidak berniat bertemu mereka. Sedangkan Bayu dan Ela, sepertinya tidak menghiraukan Dira saat ini. Keduanya terlihat menikmati hari-hari mereka berdua saja. Dira diam di balik jendela kamar, sesekali ia mengusap pelupuk matanya yang basah. Perlahan ingatan akan hari itu kembali, terbayang dikepalanya. "Nadi." Teriak seorang pria dari jauh, membuat Dira mengalihkan pandangan ke asal suara itu terdengar. Dari tempatnya saat ini, ia melihatnya. Seorang pria tengah berlari ke arahnya sambil melambaikan tangan ke atas. Sesekali pria itu kembali meneri...
Komentar
Posting Komentar